Minggu, 09 Februari 2014

Interview Gagas Writer : Robin Wijaya

Balik lagi ke #GagasWriter Interview!

Pasti #GagasAddict kenal sama penulis yang satu ini. Dia sudah menerbitkan beberapa novel di Gagasmedia, dan ikut dengan project – project menulis di Gagasmedia. Salah dua novelnya, ROMA dan VERSUS.

YEP! Welcome to Writer Interview with Robin Wijaya!



Nama : Robin Wijaya
Ulang tahun : 19 Februari 
Pekerjaan : Guru
Kebiasaan lain selain menulis : membaca, menggambar, nonton DVD, nonton youtube
Domisili : Tangerang
Penulis favorit : Jodi Picoult, Dan Brown, Nicholas Sparks


Bagaimana sih kakak bisa menjadi penulis di gagasmedia? Pertama kali bergabung di gagasmedia tahun berapa? :)

Kenal Gagas udah lama banget... Dari tahun 2007. Dulu cuma jadi pembaca aja. Terus mulai iseng-iseng kirim karya ke blog nya Gagas. Alhamdulillah dimuat. Mulai dari puisi sampai cerpen. Kalo nggak salah ada tiga atau empat tulisan saya yang dimuat di Gagas, dan setiap kali dimuat dapet hadiah buku gratis. Dari situ kemudian, saya pengen menulis sesuatu yang lebih untuk GagasMedia. Kesempatan tersebut datang ketika GagasMedia mengadakan Kompetisi Menulis 100% Roman Asli Indonesia. Saya mengikutkan dua naskah dan salah satunya terpilih sebagai finalis. Naskah finalis itu lah yang kemudian menjadi novel pertama saya di GagasMedia: Before Us 'Cinta di Belakangmu'.


Wihh perjalanan panjang. Perasaan kakak waktu naskah Before Us masuk finalis 100% roman asli indonesia bagaimana tuh?


Jujur. Norak banget!
Sekitar tahun 2010 itu penerbitan dan penulis novel belum seramai 2 tahun terakhir. Jadi penulis (apalagi di GagasMedia) adalah sebuah prestige yang sangat diinginkan banyak orang. Saya salah satunya. Apalagi sebagai pembaca yang selama ini cuma mengagumi orang-orang yang namanya tercetak di cover novel. Buat saya, mereka hebat banget. Makanya saya pengen jadi penulis juga (disamping menyalurkan kegalauan ya).
Terpilihnya naskah Before Us menjadi finalis secara tidak langsung membuka kesempatan saya untuk bisa menembus GagasMedia. Dan ke-norak-an saya itu bertambah dua kali lipat begitu dapat kabar kalau GagasMedia tertarik untuk menerbitkan novelnya :)


Tapi naskah before us bagus, kok! :)
Terus akhirnya kakak bisa nerbitin novel lainnya bagaimana? Apa lebih mudah? Atau persaingannya sama saja?

Saya merasa karir menulis saya bersama GagasMedia banyak anugerah dan kejutan. Halaaahh...
Sebagai penulis pemula, saya merasa sama sekali bukan siapa-siapa dibanding penulis-penulis GagasMedia lainnya. Belum setahun saya menjadi penulis bareng Gagas, saya sudah ditawari ikutan project GagasDuet which is kebanyakan penulisnya adalah penulis-penulis senior, bahkan saya diduetkan dengan Dahlian yang saya kagumi bahkan sering saya datangi talkshow-nya. Kemudian diikutkan di project STPC dimana 5 penulis lainnya lagi-lagi penulis senior semua. Bahkan waktu menulis VERSUS yang secara genre benar-benar berbeda dari naskah Gagas kebanyakan, redaksi pun mau memberi kesempatan itu kepada saya.
Jadi bukan lagi seberapa sulitnya menembus penerbit sekarang ini bagi saya. Tapi, seberapa besar usaha dan hasil tulisan yang bisa saya berikan: pertama untuk pembaca-pembaca Gagas, dan kedua untuk redaksi sendiri (karena saya nggak mau disebut sebagai penulis yang menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan).


(Dan sekarang kak robin sudah jadi penulis senior) Waktu menulis di GagasDuet bareng kak Dahlian, ada kesusahan gak, tuh?

Jangan dibilang senior ah. Berasa tua. Heuheuheu...
Kesulitan waktu menulis nggak ada. Kesulitan setelah ditulis, iya. Karena berbeda dengan pasangan duet lainnya. Saya dan Dahlian nggak dikasih tahu kalau akan satu buku. Kami disuruh nulis masing-masing dengan clue yang ternyata memiliki keterkaitan satu sama lain. Begitu naskah selesai ditulis, kami baru tahu siapa pasangan duetnya. Terus, kirim-kiriman naskah. Dan sama-sama shock karena naskah saya dan Dahlian kayak langit malam dan langit siang. Yang satu unyu, yang satu sedih mewek-mewek. Begitulah...


Ohh begitu, toh.
Nah, Dari semua novel yang sudah terbit, kakak itu paling enjoy menulis novel apa?

Semua novel saya enjoy nulisnya kok. Malah setiap novel punya pengalaman sendiri-sendiri.
Before Us, jelas berkesan. Karena novel pertama. Kenalan sama editor dan redaksi Gagas. Main ke kantornya, ikutan milih-milih cover. Revisinya juga panjang dan melelahkan. Sampai begadang terus.
GagasDuet: Menunggu, yang paling bikin sedih dan galau. Tiap nulis bawaannya mellow melulu.
Roma, seru banget! Gara-gara Roma jadi akrab sama Prisca, Moemoe dan Windry. Malah Roma bikin saya benar-benar jatuh cinta sama genre romance.
Versus, paling gila! Mengembalikan momen-momen jaman abg. Juga bikin saya balik ke masa SMA dimana saya masih idealis dan suka dengan tulisan-tulisan sejenis ini.

                       
Semua tulisan punya kenangan yah? :) Novel kakak ada yang diambil dari pengalaman hidup pribadi nggak?

Begitulah.
Waduh... pertanyaannya bisa diganti nggak. Hehehehehe...
Semuanya fiktif. Kalo pun ada, biasanya hasil curhatan teman yang dimodif dikit sebelum dimasukkan ke cerita. Kecuali tempat, aku lebih suka pakai setting yang sebenarnya. Jadi mulai dari Before Us sampai Versus, bisa dibilang 80-90% tempat-tempat yang disebutkan memang ada di dunia nyata (termasuk kafe yang ada di Versus, dan hotel tempat Felice menginap di Denpasar).
Oh ya, kalo teman-teman mengamati (dan saya juga baru ngeh) hampir semua novel saya selalu menyinggung kopi loh. Coba deh diteliti ;)


Eh iya! Saya juga baru sadar ._.
Tantangan terbesar kakak dalam menulis itu apa? :)

Nomor 1 : melawan godaan untuk nonton, main-main, dan iseng-iseng buka website dan meninggalkan naskah sejenak
Nomor 2 : komitmen untuk bisa menulis terus setiap hari
Sampai saat ini saya nggak punya jadwal tetap menulis. Alias, kadang nulis siang, kadang malam, kadang subuh. Pengennya sih bisa teratur. Mudah-mudahan kalau udah teratur, hasil tulisannya juga jadi lebih teratur.


Amin. :)
Diantara novel-novel kakak, yang paling lama proses penulisan - penerbitannya apa?

Yang paling lama ditulis, Roma. Kebanyakan main-main soalnya pas nulis :p
Yang paling lama proses terbitnya, Before Us. Karena revisinya banyak, dan waktu itu saya harus tulis ulang full semua chapter.


Eh, ya.. Kakak punya reader base kan? @Heartrobin! Nah itu berarti kakak udah penulis terkenal! Rasanya gimana tuh, kak? :)

Oalaahhh... saya juga nggak tahu, tiba-tiba muncul aja akun @heartrobin. Sebelumnya juga pernah sih ada akun @beforeus dan followersnya udah lumayan, sekitar 2000-an. Tapi akunnya sekarang udah nggak pernah update lagi sepertinya.
Perasaannya? Senang. Bersyukur. Berterima kasih. Kadang masih nggak kepikir kalau punya pembaca-pembaca setia seperti sekarang ini. Makasih ya teman-teman :)


Kakak pernah mendapat kritik pedas dari pembaca/penulis lain gak?

Pernah. Dan yang dikritik macam-macam. Ada yang ngritik ceritanya, teknik nulisnya, deskripsinya, dll. Biasanya sih berlanjut ke curhat sama editor. Yang bagus diambil, yang nyinyir lewatin aja lah.


Kakak punya tips menulis yang bisa dibagikan nggak, buat para calon penulis?

Tips untuk calon penulis adalah... MENULISLAH. Seriously. Kamu nggak akan disebut penulis kalau nggak menulis. Lupakan teknik dan lain-lainnya, menulis saja sampai selesai. Sampai ceritamu menyentuh tamat. Begitu :)


Ada proyek menulis baru?

Walah... utang plot sama editor yang cuma ide-ide aja tapi belum disetor itu banyak deh kayaknya. Ngejar itu dulu aja sih. Supaya plotnya selesai, terus bisa disetor dan didiskusiin buat jadi novel.
Pengennya sih bikin sekuelnya VERSUS. Sudah ada ide di kepala, malah jadi trilogi (kalo disetujuin editor karena idenya oke yah). Doakan aja supaya kepala dan otaknya nggak mandeg. Terus disetujuin, terus bisa terbit deh. Hehehehe

Sekian Interview bareng kak Robin, ditunggu lagi novel yang mengandung unsur kopi-nya! Kalau nggak kopi lagi juga tetap ditunggu, kok! :)


-Admin

1 komentar: