Senin, 20 Januari 2014

Review : Restart by Nina Ardianti



Penulis: Nina Ardianti
Editor: Prisca Primasari
Desain sampul: Dwi Anissa Anindhika
Penerbit: Gagasmedia
ISBN: 979-780-631-6
Cetakan pertama, 2013
446 halaman



"Semua orang pernah patah hati. All you have to do is move on."
                                      
Aku selalu mengira tak akan bisa hidup tanpa cintanya. Aku lupa, semua luka perlahan-lahan akan sembuh juga. Biarkan saja waktu yang menjadi obatnya.
Saat itu akan tiba, ketika aku benar-benar menerima kenyataan bahwa kini tak ada lagi 'kita'. Sekarang hanya aku, minus dirinya. DIa pergi terlalu lama dan aku terlalu bodoh terus-terusan memikirkan dirinya. AKu bisa hidup tanpa kenangan dan senyumannya. Kalau sebelum mengenal dia saja aku bisa bahagia, apa bedanya bahagia setelah tanpa dirinya?
Aku pasti akan jatuh cinta lagi. Suatu hari nanti... dan dengan yang lebih baik dari dirinya.


“Ada hal-hal dalam hidup yang lo tahu bahwa itu adalah sebuah kesalahan tapi lo nggak akan benar-benar tahu bahwa itu adalah sebuah kesalahan—“ Aulia berhenti sesaat, memastikan bahwa aku mengerti setiap patah kata-katanya, “—Karena satu-satunya cara untuk mengetahui bahwa hal tersebut merupakan kesalahan adalah dengan membuat kesalahan itu terjadi.”

Biasanya kalau ada gangguan di komputer kita, kayak loading lama dan nggak mau di klik, sebangsa itu lah kita akan memencet tombol restart (kalau saya akan mencabut semua kabelnya, biar langsung mati :p) dan memulai dari awal, sama seperti hubungan dua manusia, ketika ada masalah dan tidak bisa teratasi, kita akan berhenti sebentar dan memulainya dari awal lagi. Seperti yang dialami Syiana, dia mendapati pacarnya Yudha menginap di sebuah hotel bersama mantan pacarnya. Langsung remuk deh hatinya, selama tiga tahun mereka menjalin cinta yang aman-aman saja, tidak banyak pertengkaran karena Yudha biasanya akan mengalah, Syiana yang suka memegang kendali. Tapi tetap saja Yudha berbuat kesalahan paling fatal yang pernah dia lakukan, sesuatu perbuatan yang tidak akan pernah dimaafkan Syiana, yaitu selingkuh. Bukan perkara mudah bagi Syiana untuk move on, dia sudah sangat percaya pada Yudha bahkan mereka sudah merencanakan untuk menikah, tidak tahu apa kesalahannya sampai Yudha menghianatinya, yang jelas dia ingin memulai sesuatu yang baru, salah satunya mengikuti training di Hongkong bersama tetangga kubikelnya, Aulia. Tapi, dia tidak seberuntung itu, di Hongkong dia malah bertemu dengan Yudha, yang langsung melarikan diri dan mencoba melupakan segalanya dengan bantuan alkohol, naasnya seseorang yang duduk disebelahnya jackpot dan muntah di sepatu Syiana, plus ketika teman si pemabuk itu datang dia malah menuduh Syiana yang mengajaknya mabuk, langsung deh kedua orang tersebut mendapatkan semburan bir dari gelas Syiana. Kesialan Syiana tidak berhenti sampai di situ, ketika mau pulang ke Indonesia, Syiana satu pesawat dengan Yudha dan dua orang yang malam sebelumnya dia siram dengan bir.

Itu hanya awal mulanya, yang tidak habis dipikir Syiana sepertinya dia sangat berjodoh dengan dua orang yang dia siram dengan bir itu, di perusahaan Syiana, ada sebuah program baru yang dihandlenya, akan diluncurkan sebuah master card dengan brand ambassador sebuah grup band yang lagi booming. Syiana nggak tahu siapa grup band tersebut, dia baru mendengar namanya ketika atasannya merubah pilihan yang sebelumnya dia tentukan. Grup band tersebut bernama Dejavu, dan dua personilnya adalah orang yang pernah dia siram dengan bir di Hongkong. Si pemabuk adalah sang vocalis bernama Riza dan si penuduh bernama Fedrian atau biasa dipanggil Ian, gitaris juga leader band tersebut. Syiana benar-benar merasa sial harus berurusan dengan mereka lagi, terlebih Fedrian dengan lancang minta bin BB Syiana ke temannya, dan langsung mengajaknya makan siang. Mungkin hanya Syiana saja yang tidak suka dengan Dejavu, sahabatnya Edyta dan perempuan seluruh kantornya saja memuja-muja mereka, sering membantah perkataannya, yang menjuluki dirinya sendiri dengan “I have black belt in sacarsm”, tapi justru itulah yang disukai Fedrian dari Syiana, juga dia sangat galak dan memberi julukan sassy girl. Fedrian nggak pernah meminta mengajak Syiana, lebih tepatnya menyuruh, karena malas bertengkar Syiana mengikuti saja, seperti ketika menghadiri premier film yang dibintangi Fedrian yang kemudian memunculkan gossip terpanas pasangan baru Fedrian setelah putus dari Delisa, artis tercantik se-ibukota. Fedrian tahu kalau Syiana risi dengan ketenaran, dia hanya tersenyum dan tidak memberi keterangan jelas tentang orang yang bersamanya ketika ditanyai wartawan, dia ingin menjaga privasi Syiana. Makin lama mereka makin dekat, tanpa hubungan yang jelas, awalnya. Fedrian suka mengajak Syiana bertemu, sering memaksa mengantarkan Syiana pulang dan gila ketika mendengar Syiana pingsan, gampang dekat dengan ibunya, bahkan dia membuat album khusus yang terispirasi dari Syiana. Sedangkan Syiana bingung akan perasaannya sendiri, dia nyaman bersama Fedrian yang suka semena-mena dan sangat perhatian padanya, kadang sebal kalau Fedrian jarang menjelaskan sesuatu kalau nggak dipaksa. Luka yang ditorehkan Yudha belum sembuh betul, dengan Yudha yang bukan selebritis saya bisa selingkuh apalagi dengan selebritis yang lagi naik daun dan dipuja seantero negeri? Syiana belum siap untuk terluka kembali.

“Satu-satunya hal yang bisa menyembuhkan patah hati adalah waktu atau orang baru.”

Emagod.

Saya langsung menjadi grupisnya Fedrian, cowok yang peluk-able dan bodinya minta dipanjat itu, hahahaha. Saya suka dengan karakter Fedrian yang cool, nggak banyak omong tapi lebih banyak aksinya dan nggak pake basa basi. Sangat berbeda dengan Syiana yang selalu terencana, apa-apa perlu dipikir dulu, kesinisan dan kegalakannya justru membuat Fedrian terpesona padanya. Paling suka tuh ketika Fedrian muncul tiba-tiba di depan Syiana ketika dia sedang menyelesaikan masalah dengan Yudha dan makan bersama kakaknya, Bram, yang dikira orang yang sedang mendekati Syiana, mukanya langsung masam dan kelihatan cemburu banget. Trus ketika dua hari setelah Syiana pinsang, dia mendapati Ferdian tidur di dekat tempat tidurnya, dan buat lagu untuk Syiana juga, sweeeet banget :D. Kalau kamu pernah baca Fly to The Sky, pasti tahu siapa Syiana ini, dia sahabatnya Edyta, tokoh utama di buku tersebut, suka banget mendapati hal ini, dapat bocoran sedikit kisah tentangnya. Tapi berharap sih lebih banyak lagi, apalagi Ardian nggak pernah muncul cuman beberapa kali disebut namanya, kangen sama si pilot :D.

Saya sangat suka dengan karakter-karakter yang dibuat penulis, menginggatkan saya dengan buku Fly to The Sky, seperti Aulia sahabat Syiana di kantor yang btw cowok, orang yang sangat bijaksana dan sangat mengerti Syiana, dia itu seperti Ihsan dan Edyta, selalu ada dibutuhkan dan tanpa pamrih akan selalu menolong. Kakak Syiana, Bram yang sangat sayang dan protektif seperti kakak-kakaknya Edyta, lovable banget deh semuanya, melengkapi serunya buku ini.

Kekuranggannya hanya ada beberapa typo, selebihnya saya sangat menikmati membaca buku ini, habis sekali berbaring. Selain bercerita tentang komedi romantis atau bitchlit, ahahaha, buku ini juga memberikan gambaran kalau nggak semua selebritis itu berotak udang, contohnya ya si Fedrian Arsjad ini, lulusan MBA di Columbia University, New York dan setelah itu bekerja di Morgan Stanley Singapore selama satu tahun, mendapat predikat most eligible bachelor dan tetap bisa meraih passionnya, yeah, seandainya saja dia nyata :p.

Kalau kamu pengen tahu genre bitchlit itu yang kayak gimana, coba deh baca ini dijamin ketagihan :p


4.5 sayap aja deh karena bukunya kurang tebaaaaaaaallllllllll *pecinta buku bantal* XD.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar