Senin, 20 Januari 2014

Review : Hatimu by Salsa Oktifa



Penulis: Salsa Oktifa
Editor: eNHa
Desain sampul: Dwi Annisa Anindhika
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-604-9
Cetakan kedua, 2013
358 halaman
Buntelan dari @GagasMedia

Aku tak berharap akan berpisah denganmu dengan cara seperti ini. Tapi tekadku begitu tegas dan bahkan aku sendiri tak bisa menyangsikannya.
Bukan, bukannya aku ingin melupakanmu. Bagaimana mungkin, kau adalah yang terbaik dalam hidupku. Kau yang menyunggingkan senyum di wajahku, kau juga yang menghapus air mata dari kedua pipiku.
Tapi aku tak bisa lebih lama lagi bersamamu—karena aku mencintaimu. Aku mengharapkanmu sejak lama, menunggu dengan sabar, tetapi kau seperti bintang di malam kelabu.
Kau tak pernah datang untukku....


Cinta segitiga, sahabat jadi cinta, premis novel romance yang udah umum banget ya tapi tetep saja tidak membosankan, tergantung bagaimana cara penulis meramu 'masakannya' agar terlihat lebih menarik dan beda dari yang lain :D. Kesan pertama tentang buku ini adalah covernya keren banget, mungkin akan menjadi calon cover buku terbaik tahun ini, sampul belakang bukunya pun berhubungan dengan sampul depan, salah satu bentuk cover yang saya suka banget, sayang, waktu googling saya nggak nemu cover buku dua sisi :(
Agia dan Rain dulu bertetangga, hubungan mereka berlanjut menjadi sahabat sampai akhirnya keluarga Agia memutuskan pindah ke Jogja. Setelah kematian ibunya, tidak ada tempat terbaik bagi Rain selain kembali bersama sahabatnya, dia pun meninggalkan Bali dan ikut pindah ke rumah Agia, dia sudah dianggap seperti anak sendiri oleh orangtua Agia, Agia dan keluarganya memberi Rain kebahagiaan, kebaikan dan kehidupan. Sampai suatu ketika, satu hari merubah hubungan mereka, Agia mencium Rain.
Tanpa Rain sadari, Agia sudah memencam cinta kepadanya sejak lama, dia hanya bisa menjadi pengamat ketika Rain bersama lelaki lain, menjadi tempat curhat kalau hubungan mereka menjadi masalah, dan membuat pasangan Rain cemburu akan kedekatan mereka, contohnya adalah Bari, pacar Rain sekarang dan juga atasan Agia dan Rain di kantor. Bari tidak suka melihat Rain dan Agia begitu dekat, ketika dia dan Agia mengalamai kecelakaan bersama, Rain lebih memperhatikan Agia. Sejak awal Bari sudah menebak hubunggannya dengan Rain tidak akan mudah, karena ada satu penghalang yang begitu kuat.
Saya suka penulis mengambil sudut pandang beberapa orang pertama, bisa merasakan emosi tiap tokoh dan penulis sukses membedakan mereka, jadi, tanpa melihat bab siapa yang gantian berbicara pembaca sudah tahu siapa naratornya. Alurnya maju, tetapi kadang Agia dan Rain menceritakan kisah mereka di masa lalu. Tone ceritanya terasa cepat karena dari tiga sudut pandang, tidak ada pengulangan cerita dari satu tokoh dan tokoh lainnya. Memang porsi narasinya lebih banyak daripada dialog, tapi saya suka cara penulis bercerita sehingga betah-betah saja.
Karakter Agia digambarkan seorang yang lembut, ceria, suka menolong, sosok kakak idaman pokoknya, dan dia lebih mementingkan kebahagiaan Rain daripada dirinya sendiri. Sedangkan Rain, cukup susah menggambarkannya karena dialah karakter yang paling kurang terasa kalau menurrut saya, karena dia cewek sendiri jadi gampang membedakan dengan dua karakter cowok lainnya. Kalau melihat Agia menggambarkan Rain dari pilihan cowok yang selama ini dipacarinya, dia selalu memilih yang lain daripada yang lain, yang berkacamata dan nerd, ketika cowok itu berubah dia akan meninggalkannya. playgirl tidak, hanya saja sepertinya dia tipe cewek yang berprinsip teguh pada pendiriannya, tidak peduli pendapat orang lain dan hanya dia yang bisa memahami Bari. Bari sendiri digambarkan sesorang yang keras, bergengsi tinggi, tidak pedulian dan sinis. Bahkan adiknya sendiri meminta dia agar sedikit lebih manusiawi yah karena sifatnya yang tidak pedulian itu. Jarang mengungkapkan perasaan hati, misalnya dia tidak mengabari Rain kalau dia akan menjemput sahabat kecilnya di Solo bersama Riza, adiknya, padahal Rain menunggu dan membuatkan makanan, bagi Bari itu tidak penting. Yah, komunikasinya kurang lah. Agia dan Bari sama-sama digambarkan cakep, hanya dua sifat yang bertolak belakang yang membedakannya, satu lebut satu kasar.
Sedangkan konflik yang dipilih penulis, menghadirkan satu tokoh lagi, teman masa kecilnya Bari tadi, Eve. Ceritanya dulu Bari menyukai Eve tetapi ditolak karena lebih memilih orang lain, sakit hati dan menjadikan dia sosok yang keras. Jadi Bari ingin bales dendam gitu, 'kalau kamu punya Agia, aku juga punya Eve,' gampangannya seperti itu lah. Saya sempat was-was akan pilihan Rain, di tengah-tengan penulis sedikit mengecoh pembaca akan siapa yang Rain pedulikan, syukurlah ketakutan saya tidak terwujud :p.
Kekurangannya, penulis kurang mengekspos masa lalu Rain dan Bari, tentang keluarganya, hanya penasaran saja karena mereka digambarkan sama-sama sendirian, bahkan Bari saja tidak akrab dengan Riza, yah diceritakan alasannya juga sih, melihat sifat Bari seperti itu maklum juga, cuman pengen lebih lengkap aja :p, sedangkan Agia dan Bapaknya kerasa banget kok hubungan mereka. Untuk typo, yasudahlah ya, saya males membahas ini, cuman ada dua kata yang cukup mengganggu saya karena berulang, seperti kata kekepada, kalau nggak salah ada dua kali saya mendapatinya, entah typo atau memang begitu adanya saya hanya kurang nyaman saja, dan akhiran kalimat seperti ', bahkan' lima kali kalau nggak salah, alasannya sama, kurang nyaman bacanya.
Aku tidak pernah percaya, ada sebuah persahabatan yang tulus antara seorang laki-laki dan perempuan tanpa adanya embel-embel perasaan lain yang mengikutinya. Laki-laki dan perempuan tidak akan pernah bisa bersahabat. Mereka diciptakan untuk saling tertarik satu sama lain.
Belive me.
Buat yang pengen mengoleksi novel yang bertema sahabat jadi cinta, buku ini bisa masuk ke rakmu :p


3.5 sayap untuk covernya yang kece badai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar